efek salju

Rabu, 08 Januari 2014

Sepenggal cerita untuk calon tulang rusukku

"Ingin kubagi sepenggal cerita lalu yang masih tersisa. Namun semua berbalik menusuk dan menuding tingkah ku yang sembrono. Penat ini peluh ini ingin segera kulabuhkan lalu hilang setidaknya meringankan batin yang hampir meledak".
Gemuruh mengagetkanku, halilintar bersorak ramai di siang yang cerah. Kesal menghampiri dan takut pun ikut mendekati aku yang sendiri. Sendiri di jalanan kosong tak berpenghuni ini. Ntah apa yang membawa langkahku ke lorong di belakang benteng – benteng tua di sudut jalan Yamuna. Mungkin karena ku letih dengan rutinitas selepas menemani tumpukkan arsip dan kertas – kertas bodoh di meja kerjaku selalu atau mungkin juga dengan amukan jiwaku yang masih terbungkus rapi. Segala pernyataan – pernyataan gilapun kini berseliweran di kepalaku.
Sejujurnya aku ingin menangis, namun kutahan. Aku bukan wanita bodoh dan pasrah menghadapi problematik hidup yang singkat ini. Aku kuat dan aku tak akan menangis. Berulang ku ucap kata yang sama berulang itu pula air mata ini jatuh mewakili hujan yang semestinya hadir disini.
“Kita putus, aku ingin sendiri!” pernyataan singkat yang masih terngiang di ingatan saat Rendy memutuskanku dengan alasan ingin serius dengan karir selepas menamatkan pendidikannya di perguruan swasta. Sehari sebelumnya tak ada tanya yang mengusik batinku dengan sikapnya yang tak biasa, tak pernah – pernahnya ia mau menuruti kemauanku. Apa yang aku inginkan saat itu, apa yang aku ingin dia turuti pun ia lakukan. Maklum, aku sedikit over protektif dan kasar dan ingin selalu dituruti, aku pun sedikit disiplin, dan sangat tak menyukai keterlambatan apapun itu bentuknya... dan siapun itu! Aku tahui itu, dan dari awal pun aku berusaha sedikit merubah apa yang dia inginkan dariku seperti yang dia inginkan, tapi aku tetaplah aku. Seringkali pun ia hanya diam dan begitu cuek lalu menghindar, lebih parahnya ia pernah pernah dengan sengaja berjanji akan menemui ku di coffee shop, kutunggu dan kutunggu ia tak datang hingga kedai itu tutup, dan alasannya pun macam - macam, sibuk, lupa, ah! ingin ku akhiri, tapi jujur aku begitu menyayanginya. Aku begitu sangat ingin bersamanya, dan apapun itu akan kulakukan. Ah Rendi! aku hanya bisa terpekur melihat sikapnya yang terkadang menyakitkan aku tapi walau begitu aku sangat menyayanginya, dan aku berfikir itu semua karena salahku. Ku pikir perasaannya kini makin bertambah padaku sejak tiga bulan yang lalu kita jadian. Aku masih ingat sikap konyolnya saat Rana temanku mempertemukan aku dengan Rendy, dengan tangan gemetar dan bicarapun tak karuan singkatnya kami berkenalan lalu jadi dekat, ia pun pernah dengan tak sengaja menumpahkan minumannya di kepala salah satu pengunjung cafe saat terburu – buru memesankan minuman untukku. Semua berjalan baik – baik saja, tak ada yang pertengkaran apapun untuk mengakhiri hingga satu hari kebahagiaan terakhir itu hancur berantakan memporak – porandakan hatiku. Pintar sekali, aku merasa dibodohi dengan keadaan. Aku merasa kasihan pada diri ini. Seorang pengecut menutup mata hatiku. Aku memang jahat kuakui itu namun aku tak sejahat dia mengatasnamakan karir demi menutupi kebohongan dan kebusukannya yang telah lama tersimpan. Belum genap 36 jam yang lalu di wall akun facebook yang gencar – gencarnya kini jadi tempat berkeluh kesah orang – orang terpampang foto mesranya dengan seorang wanita dan dengan status hubungan mereka yang sontak buatku merasa ingin mati saja. Awal yang indah kujalani bersama Rendi meski banyak cekcak – cekcok diantara kami tetap kami jadikan hari yang penuh arti untuk jadi lebih baik lagi kedepannya. Rendi pun tak pernah sekalipun memarahi ataupun berlaku keras balik padaku. Kupikir semua selalu baik – baik saja. kupikir semua selalu indah. Seperti yang selalu ia ucapkan bahwa ia bahagia memiliki aku. Dan aku tak pernah terfikir bahwa di luar sana ia menduakan aku.
“Ah! Lucu...” kupaksakan bibir ku tersenyum. Meski luka hati masih membara. Ada banyak hal terjadi di luar kemampuan indra ku memahami. Aku merasa aku sama dengan benteng – benteng tua yang berdiri diantara ilalang. Sesuatu itu nyata sedang aku masih tak ingin merasakan kebenarannya pada bentangan langit biru.
Temaram senja perlahan turun di ufuk barat mengantar malam. Burung – burung pulang ke sarang hilang di balik awan. Langit berangsur kelam ketika aku kembali dengan setumpuk ketakutan yang tiba – tiba datang dan menyerang kepalaku, membuat gawat suasana pada babak berikutnya adalah aku sendiri di tengah keramaian. Aku sendiri di tengah hiruk pikuk orang. Aku sendiri di tengah gempita dunia ini.
Aku sendiri.
“Alana, ada telepon untukmu!” aku tersadar, aku tak sendiri. Suara Rana menepiskan lamunanku yang ntah dari kapan berdiri di sampingku. Ada telepon untukku melalui telepon asrama? Siapa yang saat ini masih menghubungiku lewat telepon jadul itu?
Kuusir penat yang menempel pada tubuh dengan menggerak – gerakkan anggota badanku. Membuang pandang jauh ke angkasa luas. Merasakan kesendirianku, kesendirian di tengah riuhnya aktivitas teman – teman seasramaku.
“Alana... kamu tidak dengar?” suara Rana yang cempreng kembali membuyarkan hayalan. Kutegakkan posisi berdiriku, kurapikan kerudung dan bajuku yang kurasa berantakan.
“Bagus. Teleponnya telah menunggumu dari tadi.” Rana menepuk bahuku sedang bibirnya mengerucut sembari tangannya menyilakan aku keluar.
Kuperintahkan kaki menuju lantai satu. “Al, makasih ya, urusan aku dengan Dino udah beres, makasih atas nasehatnya ya.” Ku dengar suara Vira di seberang telepon terdengar bahagia sekali. Iri rasanya mendengar ucapan itu, kalimat – kalimat itu. Aku selalu berhasil membuat orang lain tersenyum dan bahagia. Namun kenapa aku tak bisa melakukannya untuk diriku sendiri?
Ingin kubagi sepenggal cerita lalu yang masih tersisa. Namun semua berbalik menusuk dan menuding tingkah ku yang sembrono. Penat ini peluh ini ingin segera kulabuhkan lalu hilang setidaknya meringankan batin yang hampir meledak. Aku sendiri dan kesepian di hingar bingar dunia ini. Malam gelap telah pekat. Sunyi itu kembali merajam nadi darahku. Kupegang erat ponsel. Akan kuhubungi orang – orang. Baru hendak kupencet huruf keraguan muncul. Aku mau ngomong apa? Mengatakan bahwa aku kesepian? Menunjukkan kelemahanku? Kuurungkan niat itu. Semakin sunyi, bunyi tak tik jam dinding pun terdengar jelas bersaing dengan detak jantungku. Malam ini sengaja kubiarkan jendela kamar terbuka. Kunikmati hembusan hawa dingin, kutatap lembut rembulan yang bekas sinarnya terpantul apik di permukaan kolam.
Beberapa bulan kemudian.
Aku menarik nafas panjang sebelum meneruskan ketikan masalah yang tertangkup di kepalaku. Pelan – pelan ku edarkan pandang ke langit – langit kamarku, terbayang di akhir masa seragam putih abu – abu. Lima tahun silam telah terlewatkan.
“Aku harus move on!” kutegaskan tekadku untuk mengakhiri kesepian tak berujung ini. Aku harus bisa kembalikan waktuku seperti semula sebelum kedatangan Rendi dalam hidupku.
Pelan – pelan kuanalisa flashback saat bersama dulu. Mengingat – ingat kata – kata terakhir yang ia ucapkan bahwa ia akan menghubungi ku kembali di waktu luangnya atau sekadar menemui ku nanti di lain kesempatan, kutahan nafasku beberapa detik tak percaya begitu mudahnya aku percaya. Setiap pagi, selama bermingu – minggu, aku berdiri di depan pintu dengan ponsel di genggaman ku, menunggu sampai ia yakinkan aku kembali. Lalu kembali jalani hubungan baru. Namun, tekad ku kini telah bulat menggelinding, luka ini.. cukup! Aku tak boleh kalah. Rendi telah pergi tinggalkanku dengan luka yang mendalam. Aku harus bisa mengikhlaskannya. Aku tak sendiri!.
Tiba – tiba jantungku berdetak keras. Baru aku tersadar beberapa bulan yang lalu... pesan yang sama di inbox fb ku, saat itu aku masih bersama Rendi, aku tak begitu mengubrisnya sebab aku tak ingin melukai hati pasanganku. Dan parahnya orang yang kujaga hatinya malah yang tega lukai aku sedang orang yang tak aku pedulikan sama sekali malah yang kini hadir temani dan membantuku tepiskan semua keluh kesah yang menggunung.
Siapa sangka kenangan yang dulu pernah hilang kembali membawa ku terbang setiap kali kulihat bening bola matanya. Sungguh ironis yang terjadi, kini aku malah merasa ada beban, halangan atau apapun itu yang mengganggu di antara pertemuanku dan Hadi. Ya! Dia seseorang dari masa lalu, seseorang yang dulu juga pernah mengisi ruang hatiku. Aku tak pernah membayangkan sama sekali kehadirannya kembali di hidupku setelah sekian lama kita terpisah oleh ruang dan waktu tanpa komunikasi apapun. Barulah beberapa bulan itu komunikasi itu tersambung kembali itupun menjadi awal yang buruk tapi menjadi begitu berarrti di hari – hariku. Tapi, aku takkan lakukan hal bodoh ini lagi. Aku merasa cukup, cukup untukku mencintai.
Ntahlah!, aku tak pernah mengerti apa yang kurasa dengan kehadirannya kembali. Kurasa aku masih belum siap membuka tabir ku diantaranya. Tapi... sekeras apapun aku mencoba sekeras itu pula keinginan yang sulit untuk aku jelaskan ini datang dan itu begitu kuat. Aku mulai membutuhkannya, perhatiannya yang dulu kurasa tak pernah berubah sedikitpun untukku, masih sama seperti yang dulu. Walaupun aku kasar dan terkadang menyebalkan, walaupun aku penuh amarah dan over protektif Hadi tak pernah biarkan aku sendiri. Hadi tak pernah buatku merasa kecewa. Dan Hadi selalu bisa buatku tertawa tanpa beban. Dan itulah yang membedakannya dengan lelaki manapun di dunia ini. Dan itulah alasannya kenapa aku berharap lelaki seperti Hadi lah yang selalu kupanjatkan dalam do’a – do’a ku.
Namun aku tahu diri, perbedaan kasta yang telah lama ini tertulis di ingatanku, dan sisa – sisa perjuangan yang sia – sia masih tertanam jelas. Jika dulu aku tak bisa memperoleh kesempatan bagaimana dengan kali ini. Apakah mungkin penyatuan yang kuharapkan akan berlabuh pada waktunya? Atau apakah mungkin ikatan itu bisa saja terulang kembali tak peduli berapa waktu yang tlah hilang... dan apakah mungkin kan ada satu rasa tercipta kembali? Dan Bila nanti pertemuan itu menjadi berarti... aku hanya ingin kepastian dan kurasa tak ada keraguan yang mengganjal hati.