efek salju

Sabtu, 23 Agustus 2014

Semangkuk mimpi yang kau bagi

   Ini sudah mangkuk es krim kedua yang aku lahap malam itu, tak peduli aku sudah dua jam duduk di kedai ini. Pelayan tua kedai itu kadang sesekali memalingkan tatapannya dari koran pagi harinya kearah ku. Mungkin dia pikir aku kurang waras, di cuaca sedingin ini dan sedang hujan deras diluar sana, ada gadis yang masih menikmati es krim sampai mangkuk kedua, tenang saja pak tua gumam ku dalam hati mungkin akan ada mangkuk yang ketiga, keempat, kelima dan seterusnya. Aku tak peduli.    Hap, sendok demi sendok aku nikmati, tatapanku hanya menatap kosong pada suatu titik sembarang di sudut kedai itu. kenangan demi kenangan aku putar di pelupuk mataku, seperti komedi putar yang sedang memutar scene demi scene. Membuat hati ini campur aduk dan sedikit sesak. Semua rutinitas gila makan es krim ini dari mana asalnya, kalo bukan dari dirinya.    3 tahun yang lalu.    Di kedai es krim yang sama.    Wajahnya yang sedikit pucat dan tirus, rambut nya yang agak panjang, sedikit berantakan, dia tersenyum menatap ku penasaran, menunggu pendapatku tentang rasa es krim yang barusan aku cicipi.    “Gimana?” tatapnya penasaran, mukanya mulai serius melihat ekspresiku yang mengerutkan dahi seperti ada yang salah dengan es krim yang kumakan.    “Tunggu!” jawabku sambil memutar mata seolah berfikir serius mendikripsikan Sesuatu yang sedang lumer dilidahku, lalu ku coba sesendok lagi, sok-sokan lagaku seperti tester sejati.    “Enaak !!” Seru ku.    Dia tersenyum kecil dan menjewer pipiku, protes melihat ekspresi ku yang menipu. Aku lantas mengerenyit sambil mengusap pipiku yang dijewernya. Ya, Dialah Raka. Raka dan Aku pertama kali bertemu di Studio Perancangan, Dia yang mengembalikan modul desain ku yang tertinggal di studio. Disitulah kami berkenalan, dia sebenarnya seniorku di kampus, usianya terpaut dua tahun lebih tua dari umurku.    Raka mengambil cuti selama satu tahun di awal perkuliahan oleh sebab itu ia sering meminjam buku catatanku untuk mengejar ketinggalannya. Sebagai imbalannya Raka sering mentraktirku es krim. Berawal dari sebuah catatan dan secorong es krim di kantin kampuslah pertemanan kami semakin akrab.    Raka dan aku adalah sosok manusia yang mempunyai hobi yang bisa dibilang terbalik, Raka adalah cowok dengan hobi membuat cake atau makanan manis. Sedangkan aku adalah cewek dengan hobi nonton sepak bola dan nonton serial kartun Kapten Tsubatsa. Terbalik bukan?    Mr.ice cream adalah panggilanku untuknya. Cowok berbadan kurus dan tinggi ini bisa dibilang addicted dengan es krim seperti sesuatu yang tak bisa dipisahkan. Karena hobi dan mimpinya ingin mempunyai usaha di bidang kuliner itu, aku sempat berfikir apa hubungannya dengan kuliahya sekarang ternyata Raka mengambil cooking Class khusus membuat pastry di sela kesibukan pendidikan di teknik Arsitektur. Raka termasuk golongan cowok yang cool dan tak banyak bicara, Terkadang Raka tidak bisa ditebak serta penuh kejutan.    Sore itu, Raka dengan sengaja menculikku dari kampus, Raka mengajakku berkunjung ke kedai es krim yang konon katanya sudah ada sejak jaman kolonial belanda. dan aku percaya itu, karena bangunan kedai itu sudah tua, interior kedai itu pun terlihat seperti di museum–mesueum sejarah, seperti meja kasir dan pintu yang sedikit tinggi terbuat dari kayu oak yang berpelitur, mesin kasir nya pun antik dengan type model tua, disisi sebelah kiri kedai terdapat roti-roti yang masih hangat terpajang dalam etalase tua, Demikian juga alat penimbangan kue yang sudah tua, bahkan pelayan nya pun tak ada yang muda, semua tua.    Raka bercerita sambil menerawang kearah langit-langit, kalau dia sering makan es krim disini ketika masih kecil bersama ibunya. Ia menceritakan kesukaannya terhadap tempat ini dan kegemaran nya makan es krim, alasan dirinya suka sekali makan es krim karena ibunya pernah mengatakan bahwa makanan yang manis itu bisa mengobati patah hati dan bad mood.    Aku hanya menatap wajahnya yang masih sedikit pucat dan mendengarkannya dengan setia karena antusias dengan apa yang ia lakukaan dan ia ceritakan.    “Semua orang hampir menyukai es krim bukan?” dia menatap ku lagi. Sialnya aku tertangkap mata karena menatapnya lamat-lamat, aku memalingkan wajah dan menyibukan diri dengan mengambil roti tanpa isi dan ku jejali roti itu dengan es krim tutti fruiti-ku.    “Termasuk kamu yang rakus, makan es krim sama roti” protes nya sambil tertawa kecil melihat kelakuanku melahap roti isi es krim.    “ini Enaaak, coba deh Ka” sambil menyodorkan roti isi es krim kepadanya sebagai upaya meng-kamuflasekan salah tingkahku barusan. Raka lantas mencoba mengunyahnya dengan lahap, lalu tersenyum lagi tanda setuju kalau itu kombinasi yang enak.    “yeee, enak kan, sekarang Raka ketularan rakus” aku tertawa puas. Dan Raka menjewer pipiku lagi. Kami pun kembali tertawa riang.    Mungkin, para pengunjung di kedai itu, melihat Aku dan Raka seolah pasangan kekasih romantis, yang sedang bersenda gurau. Tapi mereka salah besar. Kami tidak pacaran, tepatnya Raka punya pacar. Raka berpacaran dengan Ayla. Gadis yang tak kukenal tapi aku pernah melihatnya sekali saat Raka keluar dari pintu mobil di persimpangan jalan kampus. Mengenai Raka dan Ayla pun aku tak tahu banyak karena Raka tak sekalipun membahas gadis itu di depanku. Hanya saja waktu itu, waktu aku melihatnya turun dari mobil Raka coba menerangkannya padaku tentang hubungan mereka, mereka menjalin pertemanan semenjak mereka duduk di bangku SMA, lalu mereka saling menyukai dan berpacaran, Ayla adalah gadis Cantik, Anggun, Cerdas dan terlihat Kalem, menurutku Ayla seperti Raka versi cewek. Hanya itu yang ku tahu. Hanya saat itu dan Raka tak pernah membahasnya lagi.    “Pulang yuk Ran, nanti ketinggalan jadwal nonton Tsubatsa ” ajak Raka kepadaku sekaligus mengingatkan.    “Iya, hampir lupa..ayook” jawabku sambil beranjak dari kursi. Mengikuti punggung Raka yang sudah berjalan terlebih dahulu meninggalkan kedai itu. ***    2 Tahun yang lalu. Di kedai es krim yang sama.    Raka tersenyum simpul penuh arti dan terlihat lebih menarik dengan kemeja abu-abu bermotif kotak-kotaknya, kali ini rambutnya terikat rapih.    “Ta daaaa, Happy Birth Day” Raka menyodorkan sesuatu. Aku diam terpaku tak menyangka. Sebuah surprise !!    Malam itu di hari ke lima belas di bulan September, Raka membuatkanku kue ulang tahun dengan motif bola dengan dominasi warna biru dan putih, seperti warna club kesukaanku, Chelsea. Lengkap dengan tulisan “Happy Birth Day Rana” diatas kepingan cokelat putih yang membuat kue itu semakin cantik dan tak lupa lilin dengan angka kembar dua-puluh-dua.    “Jangan lupa make a wisy nya ya” Raka tersenyum Simpul lagi.    Aku meniup lilin angka kembar itu, dan memejamkan mata dalam dua detik membuat permohonan. Kami merayakannya hanya berdua saja. Menikmati kue tart buatan Raka dan es Krim tentunya.    “Hafidz, belum telepon juga?” Raka bertanya singkat.    Hafidz? Kenapa Raka menanyakan Hafidz lagi sih?. Aku hanya menggeleng. Singkat cerita, Hafidz adalah pacarku. tepatnya seminggu yang lalu hubungan itu berakhir, jadi sekarang dia sudah menyandang gelar mantan pacar. Hafidz dan aku bertahan pacaran hanya lima bulan saja. Kami menjalani hubungan LDR alias Long Damn Realtionship, atau pacaran jarak jauh. Akhir-akhir ini komunikasi kami mulai terasa tidak lancar. Ditambah Hafidz yang tidak pernah suka dengan hobiku yang menyukai sepak bola. Terkadang itu menjadi bahan pertengkararan kami. Pada akhirnya kami memutuskan hubungan secara baik-baik. Tak ada yang harus di pertahankan.    “Sudah, jangan sedih. Mungkin dia sibuk” ujarnya seraya menghiburku.    Tak ada telepon pun tak masalah bagiku, lalu ku hanya diam dan menikmati es krim dan kuenya lagi.    “yang penting…” Ujar Raka, Hening sejenak. Aku menunggu Raka melanjutkan kalimatnya. “ Ayah dan Adik, sudah telepon” lanjutnya sambil tersenyum.    Aku mendongak, menatapnya lekat-lekat lalu membalas senyumannya “Tentu saja, itu yang penting” timpalku kepadanya. Kamu juga penting Ka.    Raka selalu peduli dan selalu mencoba menghiburku. Seorang teman yang selalu ada untukku, diberikan kejutan seperti ini adalah pertama kali dalam hidupku, ada orang lain di luar anggota keluargaku yang membuat perayaan spesial seperti ini khusus untukku hanya seorang teman seperti Raka yang melakukannya. Teman? Lalu bagaimana dengan Ayla? Apakah dia melakukan hal yang sama kepadanya?    Pertanyaan-pertanyaan ini tiba-tiba muncul di kepalaku, Mengapa aku ingin tahu detail bagaimana Rka memperlakukan Ayla? Bukankah sebelumnya aku tak pernah peduli?    “Barusan make a wish apa?” Pertanyaan Raka membangunkan ku dari lamunan akibat pertanyaan–pertayaan aneh yang bermunculan dari kepalaku.    “Rahasia” Aku menjawab spontan. Lalu memasang muka jahil.    “Pelit” Raka pura-pura ngambek.    “Anyway Ka, thank a lot, you’re my best” Aku tersenyum. aku bahagia malam ini.    “Anytime, Rantiiii” balas Raka. Dengan senyum yang selalu tak bisa kutafsirkan.    Malam itu diumur ku yang bertambah angkanya, Aku menyadari seorang duduk dihadapanku seperti sebuah es krim yang dalam diamnya terlihat cool, dalam senyumnya terasa manis, dan dalam katanya terdengar lembut. Dia yang membuatku menyadari sesuatu itu ada, tetapi sesuatu yang tak bisa aku jelaskan, tak bisa aku hitung dengan rumus matematika, dan tak bisa aku urai seperti senyawa kimia, dan sesuatu itu tidak hanya ada, tetapi hidup dan berdetak, dan kadang membuat dada ini sesak.    Segerombolan awan hitam, tak hentinya menumpahkan air kebumi, menandakan besarnya kerinduan langit pada bumi. Debu-debu yang menempel di jalanan dan gedung tua pun ikut terhanyut olehnya, membuahkan aroma tanah yang menyaingi aroma roti yang baru keluar dari pemanggangan sore itu. Kedai itu tak berubah sedikitpun, semua interiornya tetap tua di makan usia.    Dua jam yang lalu, aku dan Raka duduk bersama di kedai ini, wajahnya sudah tak sepucat dan setirus dulu, rambut nya pun tak seberantakan dan sepanjang satu tahun yang lalu, Raka terlihat baik-baik saja bukan?, Namun tak ada sedikit pun senyum yang tersirat di mukanya, Dia bersikap dingin, sedingin es krim di mangkuk dan cuaca di luar sana.    “Kemana aja gak ada kabarnya Ran?” Raka menatapku serius. Nada suaranya dingin.    Aku tak sanggup memandang Raka, hanya tertunduk dan diam atau sesekali menoleh ke arah luar, lidah ini kelu untuk berucap memberi alasan yang sebenarnya.    “Aku sibuk Ka” Aku berbohong. “Maaf Ka, aku memang keterlaluan” ucapku sekali lagi. Menahan air mata yang nyaris keluar.    Setelah mendengar kata maaf itu Raka langsung mehenyakan punggungnya kesandaran kursi, seperti tak percaya hanya mendengar kata maaf dari seorang sahabat yang hanya pamitan lewat sms dan setahun kemudian tak ada kabar sedikitpun seperti menghilang di telan bumi. Aku tahu Raka pasti marah hebat kepadaku, tapi semenjak perasaan ini makin menguasai, persahabatanku dengan Raka terasa bias, tepatnya hanya aku yang merasa bias, aku tak kuasa lagi mempertahankan kepura-puraanku di depan Raka yang selalu bersikap baik kepadaku. Karena dengan sikap Raka yang seperti itu, mahluk yang bernama perasaan ini seperti di beri pupuk, dan akan terus tumbuh, walau aku susah payah memangkas nya tapi ini akan terus tumbuh tak terkendali dan akan terus membuatku merasa bahagia dan sakit dalam waktu yang bersamaan. Maka ketika kesempatan bekerja di luar kota itu datang aku tak menyiakannya.    “Tapi kamu baik-baik saja kan?” Ucap nya tenang.    Aku mendongak, menatapnya lekat-lekat. Air mataku hampir jatuh. Aku tak boleh menangis di depan nya, ini hanya akan membuatnya semakin cemas. Mulutku kembali terbuka, namun tak bersuara, lalu aku mengangguk. Kembali menunduk. aku tahu perasaan Raka sekarang campur aduk antara marah dan cemas namun Raka selalu baik dan memaafkanku yang bertindak bodoh.    “Lalu bagaimana denganmu Ka?” ucapku terbata.    Raka tak menjawab, dia mentapku lekat-lekat, mungkin sikapku terlihat aneh dan membingungkan baginya sehingga membuat penasaran, terlihat dari raut wajahnya sepertinya ia ingin menumpahkan beribu-ribu pertanyaan atas sikapku ini. Namun Raka menyerah, dia menghenyakan kembali punggungnya kesandaran kursi. Sedikit demi sedikit suasana diantara kami pun mencair, seperti es krim di mangkuk ini pun mencair.    Layaknya langit, aku pun sama, duduk berjam-jam disini sedang menumpahkan kerinduan pada kedai ini, kerinduan pada Es krim, kerinduan pada Raka. Scene potongan kejadian di pelupuk mataku sudah habis kuputar, kini aku mengembalikan fokus pandanganku tertuju ke suatu benda di atas meja, benda yg sedikit tebal dari kertas, berwarna merah, pemberian Raka dua jam yang lalu.    Entahlah sudah berapa puluh kali aku membolak balik benda itu, dan entahlah sudah berapa kali hati ini merasa terbolak balik karena melihat isinya. Sebagai teman ini adalah kabar baik untukku, namun sebagai orang yang sedang tertimpa perasaan aneh ini adalah kabar buruk bagiku. Lalu dimana aku harus menempatkan diriku sendiri?    Butuh setahun aku men-sinkronisasi-kan antara hati dan logika ini untuk mendapatkan jawabnya, di mangkuk es krim yang ketiga ini aku baru dapat pemahamanya, bahwa tak pernah ada yang berubah dari sikap Raka kepadaku, dia selalu ada untukku, melindungiku, menyangiku sebagai sahabatnya. Aku-lah yang terlalu egois, tak mau ambil tindakan serta resiko untuk menyatakan nya dan malah pergi menghilang darinya yang hanya membuat Raka semakin bingung dan terluka.    Hujan sudah reda diluar sana, nampaknya langit sudah puas menyatakan kerinduanya pada bumi, aku lantas beranjak dari kursi kedai itu, menuju meja kasir yang tinggi, pelayan tua itu menatapku lalu tersenyum megucapkan terimakasih, aku hanya membalas senyum sekedarnya. Perasaanku masih campur aduk dan terasa sesak.    Aku melangkah gontai keluar kedai, berjalan menuju Statsiun hendak meninggalkan kota ini, dan aku berjanji, minggu depan aku kan datang lagi ke kota ini, menjadi saksi ucapan janji abadi sehidup semati antara Raka dan aylaa. aku akan hadapi semuanya, lari dari kenyataan adalah tidakan bodoh, bahwasanya sejauh apapun kita pergi, tak akan pernah membantu melupakan orang yang kita sayangi, yang membantu hanyalah sikap menerima kenyataan.    Biarlah aku menelan semua pahit dan sakit nya perasaan ini, dan waktu yang akan mencernanya. Karena aku tahu, Rasa sakit ini hanya bersifat sementara, Karena secorong es krim akan menjadi obatnya, bukan?. -The End-
 

Rabu, 08 Januari 2014

Sepenggal cerita untuk calon tulang rusukku

"Ingin kubagi sepenggal cerita lalu yang masih tersisa. Namun semua berbalik menusuk dan menuding tingkah ku yang sembrono. Penat ini peluh ini ingin segera kulabuhkan lalu hilang setidaknya meringankan batin yang hampir meledak".
Gemuruh mengagetkanku, halilintar bersorak ramai di siang yang cerah. Kesal menghampiri dan takut pun ikut mendekati aku yang sendiri. Sendiri di jalanan kosong tak berpenghuni ini. Ntah apa yang membawa langkahku ke lorong di belakang benteng – benteng tua di sudut jalan Yamuna. Mungkin karena ku letih dengan rutinitas selepas menemani tumpukkan arsip dan kertas – kertas bodoh di meja kerjaku selalu atau mungkin juga dengan amukan jiwaku yang masih terbungkus rapi. Segala pernyataan – pernyataan gilapun kini berseliweran di kepalaku.
Sejujurnya aku ingin menangis, namun kutahan. Aku bukan wanita bodoh dan pasrah menghadapi problematik hidup yang singkat ini. Aku kuat dan aku tak akan menangis. Berulang ku ucap kata yang sama berulang itu pula air mata ini jatuh mewakili hujan yang semestinya hadir disini.
“Kita putus, aku ingin sendiri!” pernyataan singkat yang masih terngiang di ingatan saat Rendy memutuskanku dengan alasan ingin serius dengan karir selepas menamatkan pendidikannya di perguruan swasta. Sehari sebelumnya tak ada tanya yang mengusik batinku dengan sikapnya yang tak biasa, tak pernah – pernahnya ia mau menuruti kemauanku. Apa yang aku inginkan saat itu, apa yang aku ingin dia turuti pun ia lakukan. Maklum, aku sedikit over protektif dan kasar dan ingin selalu dituruti, aku pun sedikit disiplin, dan sangat tak menyukai keterlambatan apapun itu bentuknya... dan siapun itu! Aku tahui itu, dan dari awal pun aku berusaha sedikit merubah apa yang dia inginkan dariku seperti yang dia inginkan, tapi aku tetaplah aku. Seringkali pun ia hanya diam dan begitu cuek lalu menghindar, lebih parahnya ia pernah pernah dengan sengaja berjanji akan menemui ku di coffee shop, kutunggu dan kutunggu ia tak datang hingga kedai itu tutup, dan alasannya pun macam - macam, sibuk, lupa, ah! ingin ku akhiri, tapi jujur aku begitu menyayanginya. Aku begitu sangat ingin bersamanya, dan apapun itu akan kulakukan. Ah Rendi! aku hanya bisa terpekur melihat sikapnya yang terkadang menyakitkan aku tapi walau begitu aku sangat menyayanginya, dan aku berfikir itu semua karena salahku. Ku pikir perasaannya kini makin bertambah padaku sejak tiga bulan yang lalu kita jadian. Aku masih ingat sikap konyolnya saat Rana temanku mempertemukan aku dengan Rendy, dengan tangan gemetar dan bicarapun tak karuan singkatnya kami berkenalan lalu jadi dekat, ia pun pernah dengan tak sengaja menumpahkan minumannya di kepala salah satu pengunjung cafe saat terburu – buru memesankan minuman untukku. Semua berjalan baik – baik saja, tak ada yang pertengkaran apapun untuk mengakhiri hingga satu hari kebahagiaan terakhir itu hancur berantakan memporak – porandakan hatiku. Pintar sekali, aku merasa dibodohi dengan keadaan. Aku merasa kasihan pada diri ini. Seorang pengecut menutup mata hatiku. Aku memang jahat kuakui itu namun aku tak sejahat dia mengatasnamakan karir demi menutupi kebohongan dan kebusukannya yang telah lama tersimpan. Belum genap 36 jam yang lalu di wall akun facebook yang gencar – gencarnya kini jadi tempat berkeluh kesah orang – orang terpampang foto mesranya dengan seorang wanita dan dengan status hubungan mereka yang sontak buatku merasa ingin mati saja. Awal yang indah kujalani bersama Rendi meski banyak cekcak – cekcok diantara kami tetap kami jadikan hari yang penuh arti untuk jadi lebih baik lagi kedepannya. Rendi pun tak pernah sekalipun memarahi ataupun berlaku keras balik padaku. Kupikir semua selalu baik – baik saja. kupikir semua selalu indah. Seperti yang selalu ia ucapkan bahwa ia bahagia memiliki aku. Dan aku tak pernah terfikir bahwa di luar sana ia menduakan aku.
“Ah! Lucu...” kupaksakan bibir ku tersenyum. Meski luka hati masih membara. Ada banyak hal terjadi di luar kemampuan indra ku memahami. Aku merasa aku sama dengan benteng – benteng tua yang berdiri diantara ilalang. Sesuatu itu nyata sedang aku masih tak ingin merasakan kebenarannya pada bentangan langit biru.
Temaram senja perlahan turun di ufuk barat mengantar malam. Burung – burung pulang ke sarang hilang di balik awan. Langit berangsur kelam ketika aku kembali dengan setumpuk ketakutan yang tiba – tiba datang dan menyerang kepalaku, membuat gawat suasana pada babak berikutnya adalah aku sendiri di tengah keramaian. Aku sendiri di tengah hiruk pikuk orang. Aku sendiri di tengah gempita dunia ini.
Aku sendiri.
“Alana, ada telepon untukmu!” aku tersadar, aku tak sendiri. Suara Rana menepiskan lamunanku yang ntah dari kapan berdiri di sampingku. Ada telepon untukku melalui telepon asrama? Siapa yang saat ini masih menghubungiku lewat telepon jadul itu?
Kuusir penat yang menempel pada tubuh dengan menggerak – gerakkan anggota badanku. Membuang pandang jauh ke angkasa luas. Merasakan kesendirianku, kesendirian di tengah riuhnya aktivitas teman – teman seasramaku.
“Alana... kamu tidak dengar?” suara Rana yang cempreng kembali membuyarkan hayalan. Kutegakkan posisi berdiriku, kurapikan kerudung dan bajuku yang kurasa berantakan.
“Bagus. Teleponnya telah menunggumu dari tadi.” Rana menepuk bahuku sedang bibirnya mengerucut sembari tangannya menyilakan aku keluar.
Kuperintahkan kaki menuju lantai satu. “Al, makasih ya, urusan aku dengan Dino udah beres, makasih atas nasehatnya ya.” Ku dengar suara Vira di seberang telepon terdengar bahagia sekali. Iri rasanya mendengar ucapan itu, kalimat – kalimat itu. Aku selalu berhasil membuat orang lain tersenyum dan bahagia. Namun kenapa aku tak bisa melakukannya untuk diriku sendiri?
Ingin kubagi sepenggal cerita lalu yang masih tersisa. Namun semua berbalik menusuk dan menuding tingkah ku yang sembrono. Penat ini peluh ini ingin segera kulabuhkan lalu hilang setidaknya meringankan batin yang hampir meledak. Aku sendiri dan kesepian di hingar bingar dunia ini. Malam gelap telah pekat. Sunyi itu kembali merajam nadi darahku. Kupegang erat ponsel. Akan kuhubungi orang – orang. Baru hendak kupencet huruf keraguan muncul. Aku mau ngomong apa? Mengatakan bahwa aku kesepian? Menunjukkan kelemahanku? Kuurungkan niat itu. Semakin sunyi, bunyi tak tik jam dinding pun terdengar jelas bersaing dengan detak jantungku. Malam ini sengaja kubiarkan jendela kamar terbuka. Kunikmati hembusan hawa dingin, kutatap lembut rembulan yang bekas sinarnya terpantul apik di permukaan kolam.
Beberapa bulan kemudian.
Aku menarik nafas panjang sebelum meneruskan ketikan masalah yang tertangkup di kepalaku. Pelan – pelan ku edarkan pandang ke langit – langit kamarku, terbayang di akhir masa seragam putih abu – abu. Lima tahun silam telah terlewatkan.
“Aku harus move on!” kutegaskan tekadku untuk mengakhiri kesepian tak berujung ini. Aku harus bisa kembalikan waktuku seperti semula sebelum kedatangan Rendi dalam hidupku.
Pelan – pelan kuanalisa flashback saat bersama dulu. Mengingat – ingat kata – kata terakhir yang ia ucapkan bahwa ia akan menghubungi ku kembali di waktu luangnya atau sekadar menemui ku nanti di lain kesempatan, kutahan nafasku beberapa detik tak percaya begitu mudahnya aku percaya. Setiap pagi, selama bermingu – minggu, aku berdiri di depan pintu dengan ponsel di genggaman ku, menunggu sampai ia yakinkan aku kembali. Lalu kembali jalani hubungan baru. Namun, tekad ku kini telah bulat menggelinding, luka ini.. cukup! Aku tak boleh kalah. Rendi telah pergi tinggalkanku dengan luka yang mendalam. Aku harus bisa mengikhlaskannya. Aku tak sendiri!.
Tiba – tiba jantungku berdetak keras. Baru aku tersadar beberapa bulan yang lalu... pesan yang sama di inbox fb ku, saat itu aku masih bersama Rendi, aku tak begitu mengubrisnya sebab aku tak ingin melukai hati pasanganku. Dan parahnya orang yang kujaga hatinya malah yang tega lukai aku sedang orang yang tak aku pedulikan sama sekali malah yang kini hadir temani dan membantuku tepiskan semua keluh kesah yang menggunung.
Siapa sangka kenangan yang dulu pernah hilang kembali membawa ku terbang setiap kali kulihat bening bola matanya. Sungguh ironis yang terjadi, kini aku malah merasa ada beban, halangan atau apapun itu yang mengganggu di antara pertemuanku dan Hadi. Ya! Dia seseorang dari masa lalu, seseorang yang dulu juga pernah mengisi ruang hatiku. Aku tak pernah membayangkan sama sekali kehadirannya kembali di hidupku setelah sekian lama kita terpisah oleh ruang dan waktu tanpa komunikasi apapun. Barulah beberapa bulan itu komunikasi itu tersambung kembali itupun menjadi awal yang buruk tapi menjadi begitu berarrti di hari – hariku. Tapi, aku takkan lakukan hal bodoh ini lagi. Aku merasa cukup, cukup untukku mencintai.
Ntahlah!, aku tak pernah mengerti apa yang kurasa dengan kehadirannya kembali. Kurasa aku masih belum siap membuka tabir ku diantaranya. Tapi... sekeras apapun aku mencoba sekeras itu pula keinginan yang sulit untuk aku jelaskan ini datang dan itu begitu kuat. Aku mulai membutuhkannya, perhatiannya yang dulu kurasa tak pernah berubah sedikitpun untukku, masih sama seperti yang dulu. Walaupun aku kasar dan terkadang menyebalkan, walaupun aku penuh amarah dan over protektif Hadi tak pernah biarkan aku sendiri. Hadi tak pernah buatku merasa kecewa. Dan Hadi selalu bisa buatku tertawa tanpa beban. Dan itulah yang membedakannya dengan lelaki manapun di dunia ini. Dan itulah alasannya kenapa aku berharap lelaki seperti Hadi lah yang selalu kupanjatkan dalam do’a – do’a ku.
Namun aku tahu diri, perbedaan kasta yang telah lama ini tertulis di ingatanku, dan sisa – sisa perjuangan yang sia – sia masih tertanam jelas. Jika dulu aku tak bisa memperoleh kesempatan bagaimana dengan kali ini. Apakah mungkin penyatuan yang kuharapkan akan berlabuh pada waktunya? Atau apakah mungkin ikatan itu bisa saja terulang kembali tak peduli berapa waktu yang tlah hilang... dan apakah mungkin kan ada satu rasa tercipta kembali? Dan Bila nanti pertemuan itu menjadi berarti... aku hanya ingin kepastian dan kurasa tak ada keraguan yang mengganjal hati.

Sabtu, 28 Desember 2013

Lautan Hati

Dari mana datangnya hasrat ini... aku pun bahkan tak mengenalnya, dan dia pun mungkin bukan tipeku. Semua kumulai dengan biasa saja. tak ada yang sempurna, tak ada yang istimewa semua nyaris terlalu biasa untuk bisa diingat. Bahkan aku pun tak memiliki pergaulan sosial yang luas dibandingkan dengannya aktivis kampus yang sarat dengan sekelompok remaja berkumpul di masjid setelah sholat dzuhur dan disambung dengan pengajian - pengajian rutin dan disambung lagi dengan aksi solidaritas untuk Syiria. Sementara aku harus tunggang langgang mengejar waktu mengejar makan siangku yang tinggal lima menit lagi dan disambung dengan celoteh - celoteh ria yang takkan ada habisnya untuk kudengar setiap hari bersama keempat temanku. Yah, mereka adalah empat serangkai ada Alin yang selalu enggak jelas pilih siapa, Panji yang tiap hari mengeluarkan rayuan yang ntah darimana asalnya, Rezky yang makin sableng dengan tingkahnya dan Tara tiada hari tanpa sindiran.
Sejak pertama kulangkahkan kaki ku di kampus ini, sekilas aku melihatnyanya dia mirip dengan sosok idolaku, Afgan, si cowok imut dengan lesung pipi yang khas dan kacamata. Mmmmm.... rasanya ceritaku pun tak akan ada habisnya juga. Jika kulihat seksama mungkin hanya kacamata saja yang mirip. Tapi ntahlah,aku pun mulai bingung kini sampai akhirnya dia masuk ke dalam alam mimpiku ntah kapan itu pun aku tak bisa mengingatnya. Kadang terfikir olehku apa karena ia mirip dengan sosok idolaku hingga aku menariknya masuk ke alam bawah sadarku atau sebaliknya atau bahkan kita berdua yang memiliki keterikatan batin tanpa disadari. Ntahlah! Lama aku tak memikirkan bunga tidurku itu lagi. Sebulan, dua bulan, bahkan tiga bulan, aku memilih untuk menjadi pendengar yang budiman ketimbang harus menelaah sesuatu yang buram bahkan hampir sama kali tak terbaca oleh hati.
Hingga akhirnya dia kembali. Dan aku kembali dalam nostalgia yang aneh. Semua dimulai begitu saja. Berawal dari mimpiku yang tak biasa. Dan aku pun jadi menaruh rasa padanya lewat mimpi pula. Namun, kenyataan takkan selamanya indah. Di mimpiku dia begitu baik dan kenyataannya dia tetap jadi si cowok rohis yang tetap cool. Dan satu yang harus benar - benar kuterima darinya dia takkan pernah melirik ataupun sekilas untuk melihat karena aku bukan jilbabers.
Hingga waktu berlalu, lama sekali. Rasa ini tiada yang tau selain aku dan hanya Allah. aku memilih menyimpan rasa, memendam semua keinginan, dan menutup lembaran cerita. Dan memilih terkubur bersama hasrat yang tak ada habisnya. apa aku sedih? Tidak! Aku memilih untuk memaknai arti pengorbanan. Sebab makna pengorbanan itulah yang menjadi sangat bernilai. Seperti mereka yang berkorban untuk sesama dan menegakkan panji Allah. Aku juga akan meneggakkan agama Allah, dengan cara berbeda. Sebab seseorang pernah bertanya kepada Ibnul Qayyim Al Jauziyyah rahimahullah :"Wahai orang alim, bagaimana pendapatmu tentang orang - orang yang hancur luluh di mabuk cinta ?." Maka beliau rahimahullah menjawab : "Wahai pemuda yang sedang tenggelam dalam badai asmara, yang selalu menghadang bahaya dengan semangatnya. Dengarlah dari jiwa yang ingin memberikan nasihat. Semoga engkau mendapat petunjuk karenanya.
Kadang masih terbayang dalam khayalku, satu waktu yang mempertemukanku dan dia di masa lalu. Entah akan seperti apa rona wajah ini, akan sama seperti pertama berjumpa, ataukah akan biasa saja. Jika boleh jujur, saat berjumpa nanti, aku ingin memeluk tubuhnya dan tak akan pernah ku lepas lagi, namun aku tau diri aku siapa, aku hanya wanita yang membawa sejuta cinta, namun belum tentu Tuhan meridhainya.
"Akhi jadikan aku halal untukmu, sebab aku ingin benar - benar ada dalam setiap detik di kehidupanmu".

Lautan Hati2

Sejujurnya telah lama aku menyimpan rasa ini. Entah bagaimana awalnya merasakan hal itu. Mungkin kini, atau telah lama terpatri tanpa disadari. Setahun yang lalu, atau bahkan sewindu yang lalu. Tidak dapat dihitung dengan algoritma karena telah buram dalam ingatanku. Terlalu lama, jika di bandingkan ketika hatiku telah jadi mambatu. Sampai enggan untuk sekedar memikirkan hasrat yang semu. Biarkan sajalah, pikirku kala itu. Lambat laun akan terlarut pula pada remah-remah waktu dan duniaku kala itu. Serta berharap insomnia sekalian, biar lupa semuanya.
Dan kini, aku kelabakan sendiri mencari cara mengungkapkannya seperti apa. Apakah harus bernyanyi keras dengan suara cemprengku agar aku dapat tertawa sendiri. Menertawai kebodohan yang malah mungkin tak menghasilkan solusi. Atau aku ceritakan pada sejawatku hingga aku harus bersiap terima kepongahan mereka. Dan mendinginkan telinga saat mereka katakan “kau itu tolol sekali..!! hasrat pada sesuatu yang tak pasti.” Memang bodoh, tapi akan lebih bodoh lagi jika kukatakan pada kalayak ramai melalui dindingku. Wall yang biasa di gunakan para pengeluh untuk menyalahkan dunia atas ketidak mampuannya. Mungkin aku akan mendapat banyak respon, tapi sesuatu yang tak berarti. Hingga ku coba untuk muntahkan lewat coretan - coretan tanganku. Mulai ku eja perlahan dengan sepenggal dua penggal tulisanku. Ah.. sama saja. Bahkan kali ini lebih mirip umpatan masalah lain yang meledak dari cawan pemikiran semerawut dalam kepalaku. Berhambur berceran keluar seperti benang kusut tak berujung. Semakin ruwet. Hasrat itu bertambah abstrak dan memaksa diri berperan menjadi Peter Parker untuk menyembunyikannya dari Marry Jane. Bagaimanapun caranya hati ini ingin memiliki tapi rasanya lidah pun terasa kelu untuk ungkapkan yang sebenarnya. Terlepas dari itu, setiap apa yang terjadi dalam hidup adalah sebuah teka-teki. Termasuk cinta rahasia yang kupendam selama itu sendiri. Hasrat yang pada mulanya ku kira adalah rasa penasaran sosial biasa. Namun ternyata lebih dari itu.
Bukan sekedar hasrat biasa! namun jauh lebih rumit dari itu. Ketika diri telah lama terjerat oleh rutinitas yang berulang kali. Kegiatan rutin yang hampir bersamaan harus kulalui dengannya dengan hal yang sama. Setiap hari kulakukan itu semua. Melihat yang sama. Tak kurasakan sejenuh ini, hingga akhirnya aku pun menyadari Ia tak pernah anggap ku ada. Dan aku mengira itulah dasar hasrat yang kumiliki. Rasa penasaran yang semakin memuncak, Saat aku melihat dari balik kerumunan kelas. Sepotong senyuman dan tawa lepasnya takkan pernah mampu kuukir bagaimana rasanya.