efek salju

Sabtu, 28 Desember 2013

Lautan Hati

Dari mana datangnya hasrat ini... aku pun bahkan tak mengenalnya, dan dia pun mungkin bukan tipeku. Semua kumulai dengan biasa saja. tak ada yang sempurna, tak ada yang istimewa semua nyaris terlalu biasa untuk bisa diingat. Bahkan aku pun tak memiliki pergaulan sosial yang luas dibandingkan dengannya aktivis kampus yang sarat dengan sekelompok remaja berkumpul di masjid setelah sholat dzuhur dan disambung dengan pengajian - pengajian rutin dan disambung lagi dengan aksi solidaritas untuk Syiria. Sementara aku harus tunggang langgang mengejar waktu mengejar makan siangku yang tinggal lima menit lagi dan disambung dengan celoteh - celoteh ria yang takkan ada habisnya untuk kudengar setiap hari bersama keempat temanku. Yah, mereka adalah empat serangkai ada Alin yang selalu enggak jelas pilih siapa, Panji yang tiap hari mengeluarkan rayuan yang ntah darimana asalnya, Rezky yang makin sableng dengan tingkahnya dan Tara tiada hari tanpa sindiran.
Sejak pertama kulangkahkan kaki ku di kampus ini, sekilas aku melihatnyanya dia mirip dengan sosok idolaku, Afgan, si cowok imut dengan lesung pipi yang khas dan kacamata. Mmmmm.... rasanya ceritaku pun tak akan ada habisnya juga. Jika kulihat seksama mungkin hanya kacamata saja yang mirip. Tapi ntahlah,aku pun mulai bingung kini sampai akhirnya dia masuk ke dalam alam mimpiku ntah kapan itu pun aku tak bisa mengingatnya. Kadang terfikir olehku apa karena ia mirip dengan sosok idolaku hingga aku menariknya masuk ke alam bawah sadarku atau sebaliknya atau bahkan kita berdua yang memiliki keterikatan batin tanpa disadari. Ntahlah! Lama aku tak memikirkan bunga tidurku itu lagi. Sebulan, dua bulan, bahkan tiga bulan, aku memilih untuk menjadi pendengar yang budiman ketimbang harus menelaah sesuatu yang buram bahkan hampir sama kali tak terbaca oleh hati.
Hingga akhirnya dia kembali. Dan aku kembali dalam nostalgia yang aneh. Semua dimulai begitu saja. Berawal dari mimpiku yang tak biasa. Dan aku pun jadi menaruh rasa padanya lewat mimpi pula. Namun, kenyataan takkan selamanya indah. Di mimpiku dia begitu baik dan kenyataannya dia tetap jadi si cowok rohis yang tetap cool. Dan satu yang harus benar - benar kuterima darinya dia takkan pernah melirik ataupun sekilas untuk melihat karena aku bukan jilbabers.
Hingga waktu berlalu, lama sekali. Rasa ini tiada yang tau selain aku dan hanya Allah. aku memilih menyimpan rasa, memendam semua keinginan, dan menutup lembaran cerita. Dan memilih terkubur bersama hasrat yang tak ada habisnya. apa aku sedih? Tidak! Aku memilih untuk memaknai arti pengorbanan. Sebab makna pengorbanan itulah yang menjadi sangat bernilai. Seperti mereka yang berkorban untuk sesama dan menegakkan panji Allah. Aku juga akan meneggakkan agama Allah, dengan cara berbeda. Sebab seseorang pernah bertanya kepada Ibnul Qayyim Al Jauziyyah rahimahullah :"Wahai orang alim, bagaimana pendapatmu tentang orang - orang yang hancur luluh di mabuk cinta ?." Maka beliau rahimahullah menjawab : "Wahai pemuda yang sedang tenggelam dalam badai asmara, yang selalu menghadang bahaya dengan semangatnya. Dengarlah dari jiwa yang ingin memberikan nasihat. Semoga engkau mendapat petunjuk karenanya.
Kadang masih terbayang dalam khayalku, satu waktu yang mempertemukanku dan dia di masa lalu. Entah akan seperti apa rona wajah ini, akan sama seperti pertama berjumpa, ataukah akan biasa saja. Jika boleh jujur, saat berjumpa nanti, aku ingin memeluk tubuhnya dan tak akan pernah ku lepas lagi, namun aku tau diri aku siapa, aku hanya wanita yang membawa sejuta cinta, namun belum tentu Tuhan meridhainya.
"Akhi jadikan aku halal untukmu, sebab aku ingin benar - benar ada dalam setiap detik di kehidupanmu".

Lautan Hati2

Sejujurnya telah lama aku menyimpan rasa ini. Entah bagaimana awalnya merasakan hal itu. Mungkin kini, atau telah lama terpatri tanpa disadari. Setahun yang lalu, atau bahkan sewindu yang lalu. Tidak dapat dihitung dengan algoritma karena telah buram dalam ingatanku. Terlalu lama, jika di bandingkan ketika hatiku telah jadi mambatu. Sampai enggan untuk sekedar memikirkan hasrat yang semu. Biarkan sajalah, pikirku kala itu. Lambat laun akan terlarut pula pada remah-remah waktu dan duniaku kala itu. Serta berharap insomnia sekalian, biar lupa semuanya.
Dan kini, aku kelabakan sendiri mencari cara mengungkapkannya seperti apa. Apakah harus bernyanyi keras dengan suara cemprengku agar aku dapat tertawa sendiri. Menertawai kebodohan yang malah mungkin tak menghasilkan solusi. Atau aku ceritakan pada sejawatku hingga aku harus bersiap terima kepongahan mereka. Dan mendinginkan telinga saat mereka katakan “kau itu tolol sekali..!! hasrat pada sesuatu yang tak pasti.” Memang bodoh, tapi akan lebih bodoh lagi jika kukatakan pada kalayak ramai melalui dindingku. Wall yang biasa di gunakan para pengeluh untuk menyalahkan dunia atas ketidak mampuannya. Mungkin aku akan mendapat banyak respon, tapi sesuatu yang tak berarti. Hingga ku coba untuk muntahkan lewat coretan - coretan tanganku. Mulai ku eja perlahan dengan sepenggal dua penggal tulisanku. Ah.. sama saja. Bahkan kali ini lebih mirip umpatan masalah lain yang meledak dari cawan pemikiran semerawut dalam kepalaku. Berhambur berceran keluar seperti benang kusut tak berujung. Semakin ruwet. Hasrat itu bertambah abstrak dan memaksa diri berperan menjadi Peter Parker untuk menyembunyikannya dari Marry Jane. Bagaimanapun caranya hati ini ingin memiliki tapi rasanya lidah pun terasa kelu untuk ungkapkan yang sebenarnya. Terlepas dari itu, setiap apa yang terjadi dalam hidup adalah sebuah teka-teki. Termasuk cinta rahasia yang kupendam selama itu sendiri. Hasrat yang pada mulanya ku kira adalah rasa penasaran sosial biasa. Namun ternyata lebih dari itu.
Bukan sekedar hasrat biasa! namun jauh lebih rumit dari itu. Ketika diri telah lama terjerat oleh rutinitas yang berulang kali. Kegiatan rutin yang hampir bersamaan harus kulalui dengannya dengan hal yang sama. Setiap hari kulakukan itu semua. Melihat yang sama. Tak kurasakan sejenuh ini, hingga akhirnya aku pun menyadari Ia tak pernah anggap ku ada. Dan aku mengira itulah dasar hasrat yang kumiliki. Rasa penasaran yang semakin memuncak, Saat aku melihat dari balik kerumunan kelas. Sepotong senyuman dan tawa lepasnya takkan pernah mampu kuukir bagaimana rasanya.