efek salju
Sabtu, 28 Desember 2013
Lautan Hati2
Sejujurnya telah lama aku menyimpan rasa ini. Entah bagaimana awalnya merasakan hal itu. Mungkin kini, atau telah lama terpatri tanpa disadari. Setahun yang lalu, atau bahkan sewindu yang lalu. Tidak dapat dihitung dengan algoritma karena telah buram dalam ingatanku. Terlalu lama, jika di bandingkan ketika hatiku telah jadi mambatu. Sampai enggan untuk sekedar memikirkan hasrat yang semu. Biarkan sajalah, pikirku kala itu. Lambat laun akan terlarut pula pada remah-remah waktu dan duniaku kala itu. Serta berharap insomnia sekalian, biar lupa semuanya.
Dan kini, aku kelabakan sendiri mencari cara mengungkapkannya seperti apa. Apakah harus bernyanyi keras dengan suara cemprengku agar aku dapat tertawa sendiri. Menertawai kebodohan yang malah mungkin tak menghasilkan solusi. Atau aku ceritakan pada sejawatku hingga aku harus bersiap terima kepongahan mereka. Dan mendinginkan telinga saat mereka katakan “kau itu tolol sekali..!! hasrat pada sesuatu yang tak pasti.” Memang bodoh, tapi akan lebih bodoh lagi jika kukatakan pada kalayak ramai melalui dindingku. Wall yang biasa di gunakan para pengeluh untuk menyalahkan dunia atas ketidak mampuannya. Mungkin aku akan mendapat banyak respon, tapi sesuatu yang tak berarti. Hingga ku coba untuk muntahkan lewat coretan - coretan tanganku. Mulai ku eja perlahan dengan sepenggal dua penggal tulisanku. Ah.. sama saja. Bahkan kali ini lebih mirip umpatan masalah lain yang meledak dari cawan pemikiran semerawut dalam kepalaku. Berhambur berceran keluar seperti benang kusut tak berujung. Semakin ruwet. Hasrat itu bertambah abstrak dan memaksa diri berperan menjadi Peter Parker untuk menyembunyikannya dari Marry Jane. Bagaimanapun caranya hati ini ingin memiliki tapi rasanya lidah pun terasa kelu untuk ungkapkan yang sebenarnya.
Terlepas dari itu, setiap apa yang terjadi dalam hidup adalah sebuah teka-teki. Termasuk cinta rahasia yang kupendam selama itu sendiri. Hasrat yang pada mulanya ku kira adalah rasa penasaran sosial biasa. Namun ternyata lebih dari itu.
Bukan sekedar hasrat biasa! namun jauh lebih rumit dari itu. Ketika diri telah lama terjerat oleh rutinitas yang berulang kali. Kegiatan rutin yang hampir bersamaan harus kulalui dengannya dengan hal yang sama. Setiap hari kulakukan itu semua. Melihat yang sama. Tak kurasakan sejenuh ini, hingga akhirnya aku pun menyadari Ia tak pernah anggap ku ada. Dan aku mengira itulah dasar hasrat yang kumiliki. Rasa penasaran yang semakin memuncak, Saat aku melihat dari balik kerumunan kelas. Sepotong senyuman dan tawa lepasnya takkan pernah mampu kuukir bagaimana rasanya.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar