efek salju

Sabtu, 23 Agustus 2014

Semangkuk mimpi yang kau bagi

   Ini sudah mangkuk es krim kedua yang aku lahap malam itu, tak peduli aku sudah dua jam duduk di kedai ini. Pelayan tua kedai itu kadang sesekali memalingkan tatapannya dari koran pagi harinya kearah ku. Mungkin dia pikir aku kurang waras, di cuaca sedingin ini dan sedang hujan deras diluar sana, ada gadis yang masih menikmati es krim sampai mangkuk kedua, tenang saja pak tua gumam ku dalam hati mungkin akan ada mangkuk yang ketiga, keempat, kelima dan seterusnya. Aku tak peduli.    Hap, sendok demi sendok aku nikmati, tatapanku hanya menatap kosong pada suatu titik sembarang di sudut kedai itu. kenangan demi kenangan aku putar di pelupuk mataku, seperti komedi putar yang sedang memutar scene demi scene. Membuat hati ini campur aduk dan sedikit sesak. Semua rutinitas gila makan es krim ini dari mana asalnya, kalo bukan dari dirinya.    3 tahun yang lalu.    Di kedai es krim yang sama.    Wajahnya yang sedikit pucat dan tirus, rambut nya yang agak panjang, sedikit berantakan, dia tersenyum menatap ku penasaran, menunggu pendapatku tentang rasa es krim yang barusan aku cicipi.    “Gimana?” tatapnya penasaran, mukanya mulai serius melihat ekspresiku yang mengerutkan dahi seperti ada yang salah dengan es krim yang kumakan.    “Tunggu!” jawabku sambil memutar mata seolah berfikir serius mendikripsikan Sesuatu yang sedang lumer dilidahku, lalu ku coba sesendok lagi, sok-sokan lagaku seperti tester sejati.    “Enaak !!” Seru ku.    Dia tersenyum kecil dan menjewer pipiku, protes melihat ekspresi ku yang menipu. Aku lantas mengerenyit sambil mengusap pipiku yang dijewernya. Ya, Dialah Raka. Raka dan Aku pertama kali bertemu di Studio Perancangan, Dia yang mengembalikan modul desain ku yang tertinggal di studio. Disitulah kami berkenalan, dia sebenarnya seniorku di kampus, usianya terpaut dua tahun lebih tua dari umurku.    Raka mengambil cuti selama satu tahun di awal perkuliahan oleh sebab itu ia sering meminjam buku catatanku untuk mengejar ketinggalannya. Sebagai imbalannya Raka sering mentraktirku es krim. Berawal dari sebuah catatan dan secorong es krim di kantin kampuslah pertemanan kami semakin akrab.    Raka dan aku adalah sosok manusia yang mempunyai hobi yang bisa dibilang terbalik, Raka adalah cowok dengan hobi membuat cake atau makanan manis. Sedangkan aku adalah cewek dengan hobi nonton sepak bola dan nonton serial kartun Kapten Tsubatsa. Terbalik bukan?    Mr.ice cream adalah panggilanku untuknya. Cowok berbadan kurus dan tinggi ini bisa dibilang addicted dengan es krim seperti sesuatu yang tak bisa dipisahkan. Karena hobi dan mimpinya ingin mempunyai usaha di bidang kuliner itu, aku sempat berfikir apa hubungannya dengan kuliahya sekarang ternyata Raka mengambil cooking Class khusus membuat pastry di sela kesibukan pendidikan di teknik Arsitektur. Raka termasuk golongan cowok yang cool dan tak banyak bicara, Terkadang Raka tidak bisa ditebak serta penuh kejutan.    Sore itu, Raka dengan sengaja menculikku dari kampus, Raka mengajakku berkunjung ke kedai es krim yang konon katanya sudah ada sejak jaman kolonial belanda. dan aku percaya itu, karena bangunan kedai itu sudah tua, interior kedai itu pun terlihat seperti di museum–mesueum sejarah, seperti meja kasir dan pintu yang sedikit tinggi terbuat dari kayu oak yang berpelitur, mesin kasir nya pun antik dengan type model tua, disisi sebelah kiri kedai terdapat roti-roti yang masih hangat terpajang dalam etalase tua, Demikian juga alat penimbangan kue yang sudah tua, bahkan pelayan nya pun tak ada yang muda, semua tua.    Raka bercerita sambil menerawang kearah langit-langit, kalau dia sering makan es krim disini ketika masih kecil bersama ibunya. Ia menceritakan kesukaannya terhadap tempat ini dan kegemaran nya makan es krim, alasan dirinya suka sekali makan es krim karena ibunya pernah mengatakan bahwa makanan yang manis itu bisa mengobati patah hati dan bad mood.    Aku hanya menatap wajahnya yang masih sedikit pucat dan mendengarkannya dengan setia karena antusias dengan apa yang ia lakukaan dan ia ceritakan.    “Semua orang hampir menyukai es krim bukan?” dia menatap ku lagi. Sialnya aku tertangkap mata karena menatapnya lamat-lamat, aku memalingkan wajah dan menyibukan diri dengan mengambil roti tanpa isi dan ku jejali roti itu dengan es krim tutti fruiti-ku.    “Termasuk kamu yang rakus, makan es krim sama roti” protes nya sambil tertawa kecil melihat kelakuanku melahap roti isi es krim.    “ini Enaaak, coba deh Ka” sambil menyodorkan roti isi es krim kepadanya sebagai upaya meng-kamuflasekan salah tingkahku barusan. Raka lantas mencoba mengunyahnya dengan lahap, lalu tersenyum lagi tanda setuju kalau itu kombinasi yang enak.    “yeee, enak kan, sekarang Raka ketularan rakus” aku tertawa puas. Dan Raka menjewer pipiku lagi. Kami pun kembali tertawa riang.    Mungkin, para pengunjung di kedai itu, melihat Aku dan Raka seolah pasangan kekasih romantis, yang sedang bersenda gurau. Tapi mereka salah besar. Kami tidak pacaran, tepatnya Raka punya pacar. Raka berpacaran dengan Ayla. Gadis yang tak kukenal tapi aku pernah melihatnya sekali saat Raka keluar dari pintu mobil di persimpangan jalan kampus. Mengenai Raka dan Ayla pun aku tak tahu banyak karena Raka tak sekalipun membahas gadis itu di depanku. Hanya saja waktu itu, waktu aku melihatnya turun dari mobil Raka coba menerangkannya padaku tentang hubungan mereka, mereka menjalin pertemanan semenjak mereka duduk di bangku SMA, lalu mereka saling menyukai dan berpacaran, Ayla adalah gadis Cantik, Anggun, Cerdas dan terlihat Kalem, menurutku Ayla seperti Raka versi cewek. Hanya itu yang ku tahu. Hanya saat itu dan Raka tak pernah membahasnya lagi.    “Pulang yuk Ran, nanti ketinggalan jadwal nonton Tsubatsa ” ajak Raka kepadaku sekaligus mengingatkan.    “Iya, hampir lupa..ayook” jawabku sambil beranjak dari kursi. Mengikuti punggung Raka yang sudah berjalan terlebih dahulu meninggalkan kedai itu. ***    2 Tahun yang lalu. Di kedai es krim yang sama.    Raka tersenyum simpul penuh arti dan terlihat lebih menarik dengan kemeja abu-abu bermotif kotak-kotaknya, kali ini rambutnya terikat rapih.    “Ta daaaa, Happy Birth Day” Raka menyodorkan sesuatu. Aku diam terpaku tak menyangka. Sebuah surprise !!    Malam itu di hari ke lima belas di bulan September, Raka membuatkanku kue ulang tahun dengan motif bola dengan dominasi warna biru dan putih, seperti warna club kesukaanku, Chelsea. Lengkap dengan tulisan “Happy Birth Day Rana” diatas kepingan cokelat putih yang membuat kue itu semakin cantik dan tak lupa lilin dengan angka kembar dua-puluh-dua.    “Jangan lupa make a wisy nya ya” Raka tersenyum Simpul lagi.    Aku meniup lilin angka kembar itu, dan memejamkan mata dalam dua detik membuat permohonan. Kami merayakannya hanya berdua saja. Menikmati kue tart buatan Raka dan es Krim tentunya.    “Hafidz, belum telepon juga?” Raka bertanya singkat.    Hafidz? Kenapa Raka menanyakan Hafidz lagi sih?. Aku hanya menggeleng. Singkat cerita, Hafidz adalah pacarku. tepatnya seminggu yang lalu hubungan itu berakhir, jadi sekarang dia sudah menyandang gelar mantan pacar. Hafidz dan aku bertahan pacaran hanya lima bulan saja. Kami menjalani hubungan LDR alias Long Damn Realtionship, atau pacaran jarak jauh. Akhir-akhir ini komunikasi kami mulai terasa tidak lancar. Ditambah Hafidz yang tidak pernah suka dengan hobiku yang menyukai sepak bola. Terkadang itu menjadi bahan pertengkararan kami. Pada akhirnya kami memutuskan hubungan secara baik-baik. Tak ada yang harus di pertahankan.    “Sudah, jangan sedih. Mungkin dia sibuk” ujarnya seraya menghiburku.    Tak ada telepon pun tak masalah bagiku, lalu ku hanya diam dan menikmati es krim dan kuenya lagi.    “yang penting…” Ujar Raka, Hening sejenak. Aku menunggu Raka melanjutkan kalimatnya. “ Ayah dan Adik, sudah telepon” lanjutnya sambil tersenyum.    Aku mendongak, menatapnya lekat-lekat lalu membalas senyumannya “Tentu saja, itu yang penting” timpalku kepadanya. Kamu juga penting Ka.    Raka selalu peduli dan selalu mencoba menghiburku. Seorang teman yang selalu ada untukku, diberikan kejutan seperti ini adalah pertama kali dalam hidupku, ada orang lain di luar anggota keluargaku yang membuat perayaan spesial seperti ini khusus untukku hanya seorang teman seperti Raka yang melakukannya. Teman? Lalu bagaimana dengan Ayla? Apakah dia melakukan hal yang sama kepadanya?    Pertanyaan-pertanyaan ini tiba-tiba muncul di kepalaku, Mengapa aku ingin tahu detail bagaimana Rka memperlakukan Ayla? Bukankah sebelumnya aku tak pernah peduli?    “Barusan make a wish apa?” Pertanyaan Raka membangunkan ku dari lamunan akibat pertanyaan–pertayaan aneh yang bermunculan dari kepalaku.    “Rahasia” Aku menjawab spontan. Lalu memasang muka jahil.    “Pelit” Raka pura-pura ngambek.    “Anyway Ka, thank a lot, you’re my best” Aku tersenyum. aku bahagia malam ini.    “Anytime, Rantiiii” balas Raka. Dengan senyum yang selalu tak bisa kutafsirkan.    Malam itu diumur ku yang bertambah angkanya, Aku menyadari seorang duduk dihadapanku seperti sebuah es krim yang dalam diamnya terlihat cool, dalam senyumnya terasa manis, dan dalam katanya terdengar lembut. Dia yang membuatku menyadari sesuatu itu ada, tetapi sesuatu yang tak bisa aku jelaskan, tak bisa aku hitung dengan rumus matematika, dan tak bisa aku urai seperti senyawa kimia, dan sesuatu itu tidak hanya ada, tetapi hidup dan berdetak, dan kadang membuat dada ini sesak.    Segerombolan awan hitam, tak hentinya menumpahkan air kebumi, menandakan besarnya kerinduan langit pada bumi. Debu-debu yang menempel di jalanan dan gedung tua pun ikut terhanyut olehnya, membuahkan aroma tanah yang menyaingi aroma roti yang baru keluar dari pemanggangan sore itu. Kedai itu tak berubah sedikitpun, semua interiornya tetap tua di makan usia.    Dua jam yang lalu, aku dan Raka duduk bersama di kedai ini, wajahnya sudah tak sepucat dan setirus dulu, rambut nya pun tak seberantakan dan sepanjang satu tahun yang lalu, Raka terlihat baik-baik saja bukan?, Namun tak ada sedikit pun senyum yang tersirat di mukanya, Dia bersikap dingin, sedingin es krim di mangkuk dan cuaca di luar sana.    “Kemana aja gak ada kabarnya Ran?” Raka menatapku serius. Nada suaranya dingin.    Aku tak sanggup memandang Raka, hanya tertunduk dan diam atau sesekali menoleh ke arah luar, lidah ini kelu untuk berucap memberi alasan yang sebenarnya.    “Aku sibuk Ka” Aku berbohong. “Maaf Ka, aku memang keterlaluan” ucapku sekali lagi. Menahan air mata yang nyaris keluar.    Setelah mendengar kata maaf itu Raka langsung mehenyakan punggungnya kesandaran kursi, seperti tak percaya hanya mendengar kata maaf dari seorang sahabat yang hanya pamitan lewat sms dan setahun kemudian tak ada kabar sedikitpun seperti menghilang di telan bumi. Aku tahu Raka pasti marah hebat kepadaku, tapi semenjak perasaan ini makin menguasai, persahabatanku dengan Raka terasa bias, tepatnya hanya aku yang merasa bias, aku tak kuasa lagi mempertahankan kepura-puraanku di depan Raka yang selalu bersikap baik kepadaku. Karena dengan sikap Raka yang seperti itu, mahluk yang bernama perasaan ini seperti di beri pupuk, dan akan terus tumbuh, walau aku susah payah memangkas nya tapi ini akan terus tumbuh tak terkendali dan akan terus membuatku merasa bahagia dan sakit dalam waktu yang bersamaan. Maka ketika kesempatan bekerja di luar kota itu datang aku tak menyiakannya.    “Tapi kamu baik-baik saja kan?” Ucap nya tenang.    Aku mendongak, menatapnya lekat-lekat. Air mataku hampir jatuh. Aku tak boleh menangis di depan nya, ini hanya akan membuatnya semakin cemas. Mulutku kembali terbuka, namun tak bersuara, lalu aku mengangguk. Kembali menunduk. aku tahu perasaan Raka sekarang campur aduk antara marah dan cemas namun Raka selalu baik dan memaafkanku yang bertindak bodoh.    “Lalu bagaimana denganmu Ka?” ucapku terbata.    Raka tak menjawab, dia mentapku lekat-lekat, mungkin sikapku terlihat aneh dan membingungkan baginya sehingga membuat penasaran, terlihat dari raut wajahnya sepertinya ia ingin menumpahkan beribu-ribu pertanyaan atas sikapku ini. Namun Raka menyerah, dia menghenyakan kembali punggungnya kesandaran kursi. Sedikit demi sedikit suasana diantara kami pun mencair, seperti es krim di mangkuk ini pun mencair.    Layaknya langit, aku pun sama, duduk berjam-jam disini sedang menumpahkan kerinduan pada kedai ini, kerinduan pada Es krim, kerinduan pada Raka. Scene potongan kejadian di pelupuk mataku sudah habis kuputar, kini aku mengembalikan fokus pandanganku tertuju ke suatu benda di atas meja, benda yg sedikit tebal dari kertas, berwarna merah, pemberian Raka dua jam yang lalu.    Entahlah sudah berapa puluh kali aku membolak balik benda itu, dan entahlah sudah berapa kali hati ini merasa terbolak balik karena melihat isinya. Sebagai teman ini adalah kabar baik untukku, namun sebagai orang yang sedang tertimpa perasaan aneh ini adalah kabar buruk bagiku. Lalu dimana aku harus menempatkan diriku sendiri?    Butuh setahun aku men-sinkronisasi-kan antara hati dan logika ini untuk mendapatkan jawabnya, di mangkuk es krim yang ketiga ini aku baru dapat pemahamanya, bahwa tak pernah ada yang berubah dari sikap Raka kepadaku, dia selalu ada untukku, melindungiku, menyangiku sebagai sahabatnya. Aku-lah yang terlalu egois, tak mau ambil tindakan serta resiko untuk menyatakan nya dan malah pergi menghilang darinya yang hanya membuat Raka semakin bingung dan terluka.    Hujan sudah reda diluar sana, nampaknya langit sudah puas menyatakan kerinduanya pada bumi, aku lantas beranjak dari kursi kedai itu, menuju meja kasir yang tinggi, pelayan tua itu menatapku lalu tersenyum megucapkan terimakasih, aku hanya membalas senyum sekedarnya. Perasaanku masih campur aduk dan terasa sesak.    Aku melangkah gontai keluar kedai, berjalan menuju Statsiun hendak meninggalkan kota ini, dan aku berjanji, minggu depan aku kan datang lagi ke kota ini, menjadi saksi ucapan janji abadi sehidup semati antara Raka dan aylaa. aku akan hadapi semuanya, lari dari kenyataan adalah tidakan bodoh, bahwasanya sejauh apapun kita pergi, tak akan pernah membantu melupakan orang yang kita sayangi, yang membantu hanyalah sikap menerima kenyataan.    Biarlah aku menelan semua pahit dan sakit nya perasaan ini, dan waktu yang akan mencernanya. Karena aku tahu, Rasa sakit ini hanya bersifat sementara, Karena secorong es krim akan menjadi obatnya, bukan?. -The End-
 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar